Palembang — Ancaman penyebaran paham radikalisme kini tidak lagi menyasar kelompok dewasa semata. Anak-anak dan remaja mulai menjadi target baru melalui media sosial, gim daring, hingga berbagai platform digital yang akrab dengan kehidupan generasi muda.
Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk “Tindak Lanjut Upaya Pencegahan, Pembinaan dan Pengawasan Anak dari Paham Radikalisme dan Tindak Pidana Terorisme di Wilayah Kota Palembang” yang digelar Tim Pencegahan Satgaswil Sumatera Selatan Densus 88 Antiteror Polri di Kota Palembang, Kamis (21/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia (BSI) Palembang itu mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari unsur pemerintah daerah, aparat keamanan, lembaga pendidikan, hingga sektor perbankan untuk memperkuat langkah pencegahan radikalisme di kalangan generasi muda.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Palembang, Rudi Indrawan, menegaskan bahwa perlindungan anak dari pengaruh paham ekstrem tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru yang menuntut keterlibatan aktif keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat secara bersamaan.
“Pengawasan terhadap perkembangan anak di era digital harus menjadi perhatian bersama. Pencegahan tidak bisa dilakukan sendiri, tetapi membutuhkan sinergi antara pemerintah, keluarga, sekolah, dan masyarakat,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Tim Pencegahan Satgaswil Sumsel Densus 88 menjelaskan bahwa kelompok radikal kini semakin adaptif memanfaatkan ruang digital untuk menyebarkan propaganda. Konten-konten yang dikemas menarik, pendekatan psikologis, hingga interaksi melalui komunitas daring menjadi metode yang digunakan untuk menjangkau kalangan muda.
Anak-anak dan remaja dinilai menjadi kelompok yang rentan karena sedang berada pada fase pencarian identitas diri. Situasi tersebut membuat mereka lebih mudah dipengaruhi apabila tidak memiliki pendampingan dan literasi digital yang memadai.
“Anak-anak dan remaja menjadi kelompok rentan karena masih berada dalam fase pencarian jati diri. Karena itu, penguatan literasi digital dan pengawasan lingkungan menjadi kunci utama pencegahan,” jelas tim Densus 88.
Selain penguatan pengawasan, forum juga menyoroti pentingnya ketahanan sosial dan ekonomi keluarga sebagai benteng awal dalam mencegah penyebaran paham radikal.
Branch Manager BSI Palembang, Muhammad Firman, mengatakan bahwa peningkatan literasi keuangan dan kemandirian ekonomi masyarakat dapat membantu memperkuat daya tahan keluarga terhadap berbagai pengaruh negatif yang berkembang di lingkungan sosial maupun dunia maya.
Sementara itu, Kepala BIN Daerah Sumatera Selatan Kolonel CPL Gusra Muttaqin mengingatkan masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima dan menyebarkan informasi digital yang berpotensi memicu konflik sosial, kebencian, maupun perpecahan.
Pandangan serupa disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Palembang, Dewi Isnaini. Ia menilai perlindungan anak harus dilakukan secara menyeluruh melalui pendidikan karakter, lingkungan sosial yang sehat, serta pembinaan berkelanjutan agar tumbuh generasi yang toleran, kritis, dan cinta tanah air.
FGD berlangsung interaktif dengan berbagai masukan dari peserta terkait strategi pencegahan radikalisme di lingkungan pendidikan dan keluarga. Forum tersebut diharapkan mampu memperkuat komitmen bersama seluruh elemen masyarakat dalam melindungi anak-anak dari pengaruh paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme.
Melalui pendekatan kolaboratif, Densus 88 menegaskan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah utama dalam menjaga generasi muda Indonesia agar tumbuh dengan nilai-nilai Pancasila, semangat toleransi, serta komitmen menjaga persatuan bangsa.
































































