JAKARTA – Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan, kerukunan umat beragama bukan sekadar slogan yang diucapkan di acara resmi. Kerukunan adalah fondasi paling vital bagi keberlanjutan pembangunan dan benteng utama menangkal intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Hal itu disampaikan Menag saat berkunjung ke Kantor Berita ANTARA di Jakarta, Kamis (1/10/2026).
“Saya menegaskan bahwa kerukunan umat beragama bukan sekadar slogan, melainkan fondasi paling vital bagi keberlanjutan pembangunan. Tanpa kerukunan dan stabilitas sosial yang kokoh, tidak mungkin kita melaksanakan pembangunan nasional, meningkatkan kualitas pendidikan, maupun memajukan perekonomian,” tegas Nasaruddin.
Ia bahkan mengaitkan langsung kerukunan dengan iklim investasi. Menurutnya, jika konflik keagamaan dan intoleransi marak, investor akan ragu menanamkan modal di Indonesia.
“Apabila konflik keagamaan marak terjadi, para investor tentu akan merasa ragu dan takut untuk menanamkan modal mereka di negara kita,” ujarnya.
Menag memaparkan capaian kerukunan menunjukkan tren positif. Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) 2025 menyentuh angka 77,89, naik dari 76,47 pada 2024. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak survei pertama digelar pada 2015 dan telah melampaui target RPJMN 2025-2029 sebesar 76,77.
“Saya melihat peningkatan IKUB ini sebagai kabar baik dan prestasi sosial yang patut kita syukuri. Namun saya selalu menekankan bahwa ukuran keberhasilan tidak boleh berhenti pada angka statistik di atas kertas semata,” jelasnya.
Ia menilai, semakin dekat umat dengan ajaran agamanya yang penuh kasih dan toleransi, semakin sulit paham radikal masuk. Sebaliknya, jika umat berjarak dari substansi agamanya, kerukunan sulit dijaga.
“Begitu umat semakin dekat dan memahami substansi ajaran agamanya yang penuh kasih serta toleransi, kehidupan sosial menjadi jauh lebih ramah, aman, dan harmonis,” kata Menag.
Apresiasi publik terhadap upaya menjaga kerukunan juga terekam dalam survei Poltracking Indonesia pada 14-20 Agustus 2026. Sebanyak 72,5 persen publik menilai pemerintah berhasil menjaga kerukunan antarumat beragama.
Menag pun mengajak tokoh agama dan seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat persaudaraan.
“Agama harus senantiasa hadir sebagai sumber nilai kedamaian dan etika yang menyatukan seluruh warga negara tanpa membeda-bedakan latar belakang keyakinan,” pungkasnya.































































