Istanbul – Suasana Ramadan di Istanbul menghadirkan pemandangan yang mungkin tidak lazim di sejumlah negara lain. Setelah salat tarawih usai dan doa dipanjatkan, lantunan tawa anak-anak justru terdengar memenuhi ruang masjid.
Bagi sebagian masyarakat Turki, pemandangan itu bukan bentuk kelalaian terhadap kesakralan tempat ibadah. Sebaliknya, itulah cara menjaga masjid tetap hidup.
Salah satu imam yang melakukan hal tersebut adalah Mahmut Eroglu. Ia secara sengaja mengajak anak-anak bermain di dalam masjid setelah salat tarawih. Aktivitas itu, menurutnya, bukan sekadar spontanitas, melainkan tradisi yang telah lama berlangsung di berbagai masjid di Turki.
Di sejumlah masjid besar, imam bahkan turut berlari kecil, bercengkerama, hingga tertawa bersama anak-anak. Tujuannya sederhana: menanamkan rasa cinta kepada masjid sejak usia dini.
Di Hamdi Cami, misalnya, tersedia sudut khusus yang difungsikan sebagai ruang bermain anak. Biasanya area tersebut berada di bagian tertentu seperti bawah tangga. Jika ruang dalam tidak memungkinkan, halaman atau taman masjid dijadikan alternatif.
Tradisi ini sejalan dengan pesan historis yang kerap dikaitkan dengan Mehmed II, atau Sultan Al-Fatih, yang pernah mengingatkan agar umat khawatir ketika masjid tak lagi dipenuhi suara anak kecil. Pesan tersebut menegaskan bahwa kehidupan masjid bertumpu pada generasi yang tumbuh di dalamnya.
Sebuah video yang beredar dari Istanbul memperlihatkan seorang imam memimpin permainan tarik tambang di dalam masjid selepas tarawih. Anak-anak tampak berlari, bermain balon, dan menikmati malam Ramadan dengan penuh kegembiraan. Pemandangan yang mungkin dianggap tak biasa, namun sarat makna kebersamaan.
Fenomena ini juga sejalan dengan semangat yang diusung Diyanet, otoritas keagamaan Turki, yang menetapkan tema Ramadan 2026: “Ramadan, Masjid dan Kehidupan.” Tema tersebut menekankan peran masjid sebagai pusat aktivitas sosial dan spiritual umat, bukan sekadar tempat ritual.
Presiden Diyanet, Safi Arpaguş, menegaskan bahwa sejak masa awal peradaban Islam, masjid berfungsi sebagai pusat pendidikan, pembentukan akhlak, serta penguatan solidaritas sosial. Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, menghidupkan kembali fungsi tersebut dinilai semakin relevan.
Ramadan menjadi momentum yang tepat untuk itu. Bulan suci bukan hanya ruang ibadah personal, tetapi juga “sekolah kehidupan” yang mengajarkan kebersamaan dan kedekatan spiritual.
Menghadirkan anak-anak ke masjid, bahkan membiarkan mereka bermain dalam batas yang wajar, dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi keberlanjutan kehidupan masjid. Di sanalah benih iman mulai tumbuh—tanpa rasa takut, tanpa tekanan.
Dari Turki, tersaji satu pelajaran sederhana: masjid yang hidup adalah masjid yang dirindukan. Dan suara anak-anak yang bergema di dalamnya bisa jadi adalah tanda paling nyata bahwa masa depan sedang disiapkan.

































































