SURABAYA — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) perlu memasuki tahap evaluasi yang lebih mendalam. Selain mencatat jumlah penerima manfaat, pemerintah dinilai perlu mengukur perubahan yang terjadi pada anak setelah memperoleh makanan bergizi secara rutin.
Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) Prof Dr Mundakir mengatakan ukuran keberhasilan MBG semestinya mencakup dampaknya terhadap kesehatan dan pendidikan anak.
Pandangan tersebut disampaikan Mundakir dalam Dialog Kebangsaan bertema “Menguji Masa Depan MBG: Gizi, Anggaran, dan Kepentingan Publik” yang digelar Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di Aula KH Mas Mansur, Kantor PWM Jawa Timur, Selasa (25/8/2026).
Menurut Mundakir, data mengenai jumlah penerima memang penting untuk menggambarkan cakupan program. Namun, data tersebut belum cukup untuk menjawab pertanyaan yang lebih substansial: apa perubahan yang terjadi pada anak setelah mendapatkan MBG?
“BGN semestinya tidak hanya menyampaikan berapa jumlah anak yang telah mendapat MBG, namun apa hasilnya terhadap anak-anak yang telah mendapat MBG itu baik dari sisi kesehatan maupun pendidikan,” ujar Mundakir.
Mundakir menilai MBG merupakan program yang berkaitan langsung dengan pembangunan kualitas sumber daya manusia. Karena itu, evaluasi keberhasilannya harus melihat hasil akhir yang diterima anak, bukan semata-mata banyaknya porsi makanan yang tersalurkan.
Ia mengusulkan adanya tim riset yang melakukan kajian secara kualitatif dan fundamental untuk mengukur dampak program.
Riset tersebut dapat mencakup berbagai aspek, mulai dari kualitas makanan (food quality), keamanan pangan (food safety), hingga kandungan nutrisi (food nutrient).
Hasil penelitian kemudian dapat menjadi dasar untuk memperbaiki pelaksanaan MBG, termasuk memastikan makanan yang diproduksi setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memenuhi standar yang dibutuhkan penerima manfaat.
Pentingnya evaluasi semakin relevan karena persoalan gizi anak tidak hanya berbentuk kekurangan makanan. Mundakir menyoroti fenomena triple burden of malnutrition, yakni tiga beban masalah gizi yang dapat muncul secara bersamaan dalam masyarakat.
Pertama, kekurangan gizi atau undernutrition yang antara lain dapat berkaitan dengan stunting. Kedua, kekurangan mikronutrien, yakni kondisi ketika tubuh tidak memperoleh cukup vitamin dan mineral esensial.
Di sisi lain, terdapat persoalan kelebihan gizi yang dapat meningkatkan risiko kelebihan berat badan dan obesitas. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa program pemberian makanan tidak bisa menggunakan pendekatan seragam tanpa memperhatikan kebutuhan gizi penerima manfaat. Karena itu, Mundakir menekankan pentingnya standar nutrisi sebagai pedoman bagi setiap dapur SPPG.
Menurutnya, standar tersebut diperlukan agar makanan yang diberikan tidak hanya memenuhi aspek kuantitas, tetapi juga sesuai dengan kebutuhan gizi anak.
Mundakir melihat perguruan tinggi memiliki kapasitas untuk membantu pemerintah melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap MBG. Sebagai organisasi yang memiliki jaringan perguruan tinggi di berbagai daerah, Muhammadiyah dinilai memiliki sumber daya akademik yang dapat dilibatkan dalam riset mengenai program tersebut.
Ia mengatakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) dapat mengambil peran melalui penelitian, monitoring, dan evaluasi sehingga pelaksanaan MBG dapat terus diperbaiki berdasarkan bukti ilmiah.
“Saya yakin potensi yang dimiliki oleh PTM sangat siap untuk melakukan riset itu, tinggal menunggu kabar dari Pak Mariman selaku BGN kemudian kita siapkan instrumen monitoring dan evaluasinya,” pungkas Mundakir.
Pelibatan perguruan tinggi dalam evaluasi MBG dinilai dapat memberikan perspektif yang lebih objektif mengenai dampak program. Riset dapat diarahkan untuk melihat apakah makanan yang diberikan benar-benar memenuhi standar gizi, aman dikonsumsi, diterima oleh anak, serta memberikan perubahan terhadap kondisi kesehatan dan proses belajar.
Dengan pendekatan tersebut, MBG tidak hanya dipandang sebagai program distribusi makanan berskala besar, tetapi sebagai investasi pembangunan manusia.
Pada akhirnya, pertanyaan penting mengenai MBG bukan hanya berapa juta anak yang telah menerima makanan, melainkan seberapa besar perubahan yang terjadi pada anak setelah menerima makanan tersebut.
Ukuran tersebut yang nantinya dapat menjadi dasar untuk menilai apakah MBG benar-benar mencapai tujuan utamanya: membantu menciptakan generasi yang lebih sehat dan mendukung peningkatan kualitas pendidikan anak.






























































