Bogor – Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) dan Lembaga Persahabatan Ormas Keagamaan (LPOK) menyatakan dukungan dan komitmennya dengan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dalam rangka pencegahan radikalisme akibat terorisme.
Komitmen tersebut disampaikan saat kedua paguyuban tersebut bertemu dengan Kepala BNPT Komjen Pol Dr Boy Rafli Amar MH pada acara Silaturahmi dan Dialog Nasional dengan Satgas BNPT Tokoh Agama RI Dalam Rangka Pencegahan Terorisme Radikal yang berlangsung di Kantor BNPT Citeurep, Bogor, Senin (7/3)
Kepala BNPT Komjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan, tantangan memerangi radikalisme dan terorisme semakin hari semakin berat, terutama karena kelompok-kelompok ini sering menargetkan generasi muda untuk direkrut dan terlibat dalam aksi kekerasan bahkan bom bunuh diri atas nama agama. .
“Yang terpenting kita harus menyelamatkan anak bangsa dari memasuki ranah kekerasan atas nama agama, dan BNPT akan selalu berpegang pada konstitusi untuk melindungi segenap bangsa Indonesia,” kata Boy Rafli Amar.
Berdasarkan pernyataan Kepala BNPT, Ketua Umum LPOI dan LPOK Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj MA juga memberikan dukungan dan komitmen penuh untuk bersama-sama bersinergi dengan BNPT untuk meningkatkan kesadaran dan sikap bersama dalam menghadapi tantangan radikalisme dan terorisme yang mengancam agama dan integritas bangsa.
“LPOI dan LPOK yang tergabung dalam Satgas Tokoh Agama BNPT tentunya siap bersama BNPT dalam mengerahkan kekuatan yang lebih besar, untuk menjawab tantangan pencegahan penyebaran radikalisme dan mewujudkan kerjasama dan gerakan konkret,” kata Kiai Said Agil Siraj.
Mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu kembali menegaskan bahwa pada dasarnya tidak ada satu agama pun yang mengajarkan kekerasan karena radikalisme terorisme ini muncul dan berkembang melalui ambisi dan tujuan politik tertentu.
“Terjadinya kekerasan bukan atas dasar agama, tetapi yang terpenting adalah ambisi politik, sehingga agama yang dulunya merupakan nilai universal telah menjadi komoditas politik untuk mencapai kepentingan tertentu,” kata Kiai Said.
Menurutnya, kelompok radikal ini seringkali menyebarkan propaganda hanya berdasarkan pemahaman tekstual. Pemahaman seperti itu, menurutnya, sering digunakan untuk menutupi kepentingan politik yang hanya akan menjadi fitnah bagi agama itu sendiri.
“Hal-hal seperti itu akan sesat. Agama dijadikan kamuflase politik, karena itu adalah kemurtadan agama. Itu menjadi tidak benar, itu fitnah,” ujarnya.
KH Said Aqil Siroj kembali mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terjebak dan terprovokasi oleh gerakan atau praktik politik yang dibalut atau dibalut dengan agama dan selalu merapatkan barisan serta memperkuat nilai-nilai moderat.
“Oleh karena itu, kita tidak boleh terprovokasi sedikit pun oleh gerakan politik yang berbalut agama. Mari bersatu barisan, kita bela NKRI, Pancasila, UUD 1945 Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Kiai Said.

































































