Padang — Di balik kokohnya benteng sosial suatu bangsa, ada peran lembut namun kuat dari para perempuan. Mereka bukan hanya ibu yang melahirkan generasi, tetapi juga pendidik pertama yang menanamkan nilai-nilai kebangsaan, toleransi, dan kasih sayang di rumah.
Hal itu ditegaskan Kepala Satpol PP Kota Padang, Chandra Eka Putra, S.IP., M.Si., yang mewakili Wali Kota Padang dalam kegiatan Dialog Kebangsaan Bersama Ormas dan Tokoh Perempuan dalam Rangka Meningkatkan Toleransi dan Moderasi Beragama di Wisma Haji Padang, Rabu lalu. Acara ini merupakan kolaborasi antara BNPT dan Komisi XIII DPR RI.
Chandra menyoroti tantangan zaman yang semakin kompleks. Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, sikap saling curiga dan menurunnya toleransi menjadi ancaman nyata bagi harmoni bangsa.
“Indonesia, termasuk Kota Padang, dibangun atas keberagaman suku, agama, ras, dan adat istiadat. Keberagaman ini harus menjadi kekuatan, bukan sumber perpecahan,” ujarnya.
Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga keutuhan bangsa karena mereka adalah guru pertama dalam keluarga. Dari tangan seorang ibu lahir anak-anak yang berkarakter, berakhlak, dan memiliki empati sosial.
“Jika perempuan aktif menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini di rumah, masyarakat akan tumbuh lebih kuat dan tidak mudah terpengaruh ideologi menyesatkan,” tambah Chandra.
Ia menekankan bahwa toleransi tidak muncul dengan sendirinya. Nilai itu harus dirawat lewat keteladanan dan pendidikan sejak usia dini. Keluarga, katanya, adalah sekolah pertama, dan ibu adalah pendidik yang mengajarkan cinta kasih, keadilan, serta penghormatan terhadap sesama.
Dalam konteks era digital, peran perempuan semakin penting. Arus informasi yang begitu deras menuntut orang tua, terutama ibu, untuk menjadi penjaga nilai dan literasi digital keluarga.
“Di era digital, perempuan harus menjadi penjaga nilai. Ajak anak-anak menggunakan media sosial untuk hal-hal positif, bukan untuk menyebar kebencian,” pesannya.
Chandra juga mengapresiasi kiprah organisasi perempuan di Padang yang aktif dalam kegiatan sosial, kewirausahaan, dan kemanusiaan. Menurutnya, gerakan nyata seperti gotong royong dan pemberdayaan ekonomi perempuan adalah bentuk konkret dalam memperkuat ketahanan sosial.
Ia turut mengingatkan pentingnya meneladani semangat tokoh perempuan nasional seperti Cut Nyak Dhien, R.A. Kartini, Dewi Sartika, dan Rasuna Said—perempuan yang berjuang bukan hanya untuk kesetaraan, tetapi juga untuk keadilan dan kemanusiaan.
“Semangat para pejuang perempuan harus kita teruskan dengan menjadi agen perdamaian dan penjaga harmoni sosial di Kota Padang,” ujar Chandra.
Menatap bonus demografi 2045, Chandra menegaskan pentingnya membangun generasi muda yang berkarakter, berdaya saing, dan berjiwa Pancasila. Ia berharap kegiatan seperti ini menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi antarwarga, menumbuhkan semangat toleransi, serta mempererat persaudaraan di tengah keberagaman.
“Semoga dialog kebangsaan ini menjadi wadah memperkuat harmoni dan semangat persatuan di Kota Padang,” pungkasnya.

































































