Jakarta – Kontak tembak di kawasan Mile Post 50, area operasional PT Freeport Indonesia, Kabupaten Mimika, kembali menyorot eskalasi keamanan di Papua. Dalam insiden Rabu (11/2) itu, satu prajurit TNI gugur, satu lainnya terluka, serta seorang karyawan perusahaan tambang tersebut ikut terdampak tembakan.
Aparat menduga pelaku berasal dari kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM). Peristiwa ini kembali memantik perdebatan mengenai pola penanganan konflik yang telah berlangsung puluhan tahun di Bumi Cenderawasih.
Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, menyebut aksi penembakan tersebut sebagai bentuk teror yang tidak bisa ditoleransi. Namun lebih dari sekadar respons keamanan, ia menilai pemerintah perlu menghadirkan strategi komprehensif agar konflik tidak terus berulang.
“Ini bukan hanya soal penindakan, tapi bagaimana negara menghadirkan solusi yang jelas dan tegas agar konflik ini tidak terus berlarut,” ujar Dave di Kompleks Parlemen, Jumat (13/2).
Menurutnya, pendekatan keamanan tetap penting, terutama untuk melindungi masyarakat dan objek vital nasional. Namun, ia menekankan perlunya strategi paralel melalui jalur dialog dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Papua.
Dave menilai, tanpa peta jalan penyelesaian yang terukur, situasi akan terus menjadi siklus kekerasan. Ia mendorong pemerintah membuka ruang diplomasi domestik maupun internasional guna mempertemukan pihak-pihak yang bertikai.
Di sisi lain, ia optimistis pemerintahan Presiden Prabowo dan Wakil Presiden Gibran mampu merumuskan langkah yang lebih terintegrasi, termasuk lewat penguatan kualitas sumber daya manusia dan pengelolaan kekayaan daerah untuk kesejahteraan rakyat Papua.
Sementara itu, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Tri Purwanto mengonfirmasi prajurit yang gugur adalah Serka AC, personel Koramil 1710-04/Tembagapura, Kodim 1710/Mimika. Saat kejadian, korban berada dalam rombongan kendaraan perusahaan.
TNI, kata Tri, kini meningkatkan pengamanan di titik-titik rawan, khususnya di sekitar objek vital nasional. Aparat juga terus memburu pelaku penyerangan guna memastikan stabilitas keamanan tetap terjaga.
Insiden ini kembali menjadi pengingat bahwa penyelesaian konflik Papua membutuhkan lebih dari sekadar respons taktis—melainkan strategi jangka panjang yang menyentuh akar persoalan.

































































