Makassar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi upaya pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga bagian dari strategi besar negara dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Di balik pelaksanaannya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memegang peran penting dalam memastikan program ini berjalan efektif hingga ke wilayah pelosok.
Hal tersebut disampaikan Mayor Inf Abdi Hermianto selaku Pabanda Puanter Sterdam XIV/Hasanuddin dikutip dari laman rri.co.id, Rabu (25/3/2026). Ia menegaskan bahwa program MBG merupakan inisiatif pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk menekan angka stunting dan malnutrisi yang masih tinggi, sekaligus meningkatkan kualitas generasi masa depan.
“Program ini menyasar anak sekolah, santri, ibu hamil, dan ibu menyusui sebagai kelompok prioritas dalam pemenuhan gizi,” ujarnya.
Keterlibatan TNI dalam program ini bukan tanpa dasar. MBG masuk dalam kategori Operasi Militer Selain Perang (OMSP), yang memungkinkan TNI berkontribusi dalam pembangunan nasional, termasuk di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Di lapangan, TNI berperan aktif mulai dari pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dukungan distribusi logistik, hingga penyediaan lahan untuk kebutuhan bahan pangan. Peran ini sekaligus memperkuat ketahanan nasional melalui aspek gizi.
Di wilayah Kodam XIV Hasanuddin yang meliputi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, implementasi program MBG difokuskan pada pembangunan dan penguatan SPPG.
Struktur teritorial seperti Korem dan Kodim menjadi ujung tombak pelaksanaan di daerah, dengan dukungan penuh aparat kewilayahan. Kehadiran mereka memastikan program dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Peran penting juga dipegang oleh Babinsa sebagai garda terdepan pembinaan teritorial. Mereka terlibat langsung dalam pendampingan distribusi makanan bergizi, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Tak hanya soal makanan, program MBG juga terintegrasi dengan upaya ketahanan pangan. TNI turut menyiapkan lahan pertanian dan peternakan untuk mendukung pasokan bahan baku dapur gizi.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang menghubungkan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, hingga stabilitas nasional.
“Pelaksanaan MBG juga menjadi wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat,” tambahnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor, program ini diharapkan mampu menjangkau lebih luas dan memberikan dampak nyata, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil.
Makassar – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi upaya pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga bagian dari strategi besar negara dalam membangun sumber daya manusia unggul menuju Indonesia Emas 2045. Di balik pelaksanaannya, Tentara Nasional Indonesia (TNI) memegang peran penting dalam memastikan program ini berjalan efektif hingga ke wilayah pelosok.
Hal tersebut disampaikan oleh Abdi Hermianto, yang menegaskan bahwa program MBG merupakan inisiatif pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk menekan angka stunting dan malnutrisi yang masih tinggi, sekaligus meningkatkan kualitas generasi masa depan.
“Program ini menyasar anak sekolah, santri, ibu hamil, dan ibu menyusui sebagai kelompok prioritas dalam pemenuhan gizi,” ujarnya dikutip dari laman rri.co.id., Rabu (25/3/2026).
Keterlibatan TNI dalam program ini bukan tanpa dasar. MBG masuk dalam kategori Operasi Militer Selain Perang (OMSP), yang memungkinkan TNI berkontribusi dalam pembangunan nasional, termasuk di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.
Di lapangan, TNI berperan aktif mulai dari pengelolaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dukungan distribusi logistik, hingga penyediaan lahan untuk kebutuhan bahan pangan. Peran ini sekaligus memperkuat ketahanan nasional melalui aspek gizi.
Di wilayah Kodam XIV Hasanuddin yang meliputi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, implementasi program MBG difokuskan pada pembangunan dan penguatan SPPG.
Struktur teritorial seperti Korem dan Kodim menjadi ujung tombak pelaksanaan di daerah, dengan dukungan penuh aparat kewilayahan. Kehadiran mereka memastikan program dapat menjangkau masyarakat hingga tingkat paling bawah.
Peran penting juga dipegang oleh Babinsa sebagai garda terdepan pembinaan teritorial. Mereka terlibat langsung dalam pendampingan distribusi makanan bergizi, terutama di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal).
Tak hanya soal makanan, program MBG juga terintegrasi dengan upaya ketahanan pangan. TNI turut menyiapkan lahan pertanian dan peternakan untuk mendukung pasokan bahan baku dapur gizi.
Pendekatan ini memperlihatkan bahwa MBG bukan sekadar bantuan sosial, melainkan bagian dari strategi jangka panjang yang menghubungkan kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, hingga stabilitas nasional.
“Pelaksanaan MBG juga menjadi wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat,” tambahnya.
Dengan kolaborasi lintas sektor, program ini diharapkan mampu menjangkau lebih luas dan memberikan dampak nyata, terutama bagi masyarakat di wilayah terpencil.

































































